Selasa, 07 Oktober 2014

Tari Bedhaya Ketawang



Tari Bedhaya Ketawang adalah salah satu tarian klasik yang disakralkan dan berasal dari Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Tarian ini biasanya hanya dipertunjukkan setahun sekali yakni pada saat hari ulang tahun tahta kerajaan. Konon, saat dipentaskan, Kanjeng Ratu Kidul pun ikut menari sebagai tanda penghormatan kepada raja penerus dinasti Mataram.

Tari Bedhaya Ketawang berasal dari kata Bedhaya dan Ketawang. Bedhaya berarti penari wanita di istana dan Ketawang berarti bintang di langit (mencerminkan sesuatu yang luhur). Sebelum tarian ini tercipta, konon Penembahan Senopati (Sultan Agung) telah memerintahkan para pakar gamelan untuk menciptakan sebuah Gendhing yang bernama Ketawang. Tarian ini diperagakan oleh sembilan orang penari perempuan dengan tata rias layaknya seorang pengantin Jawa. Tarian ini menggambarkan hubungan khusus antara Panembahan Senopati (Sultan Agung) dengan Kanjeng Ratu Kencanasari (Kanjeng Ratu Kidul).

Kesembilan penari tersebut masing-masing memiliki nama sesuai perannya. Penari pertama disebut dengan Batak. Penari kedua disebut dengan Endhel Ajeg, penari ketiga disebut dengan Endhel Weton. Untuk penari keempat disebut dengan Apit Ngarep, penari kelima disebut dengan Apit Mburi dan penari keenam disebut dengan Apit Meneg. Sedangkan untuk penari ketujuh, kedelapan serta kesembilan disebut dengan Gulu, Dhada serta Dan Boncit.

Musik yang mengiringi tarian ini terdiri dari beberapa instrumen yakni Kemanak, Kethuk, Kenong, Kendhang dan Gong. Suara merdu dari Sinden juga turut mengiringi tarian ini. Tarian ini biasanya berlangsung selama satu jam. Dalam pertunjukkan ini baik raja maupun rakyat sama-sama berkumpul menjadi satu. Hal ini melambangkan kepercayaan Manunggaling Kawula Gusti yang berarti penyatuan antara raja dan rakyatnya. Secara spiritual Manunggaling Kawula Gusti bisa juga berarti penyatuan antara Tuhan dan ciptaanNya.

Sebelum pertunjukkan tari dimulai, para penari biasanya harus mengikuti beberapa aturan dan upacara adat. Malam sebelum pertunjukkan, para penari harus tidur di Panti Satria yakni sebuah tempat yang dianggap suci di istana keraton. Selain itu para penari yang akan menarikan tarian ini juga harus melakukan ritual puasa tertentu. Intinya para penari harus dalam keadaan suci baik lahir maupun batin. Sungguh suatu budaya klasik yang tetap harus dilestarikan.

Sumber : utiket.com