Jumat, 24 Oktober 2014

Tari Tor-Tor


Tari Tor-Tor merupakan salah satu tarian khas Suku Batak yang ada di Sumatera Utara, tepatnya daerah Mandailing. Tarian ini konon sudah ada di kawasan Sumatera Utara sejak abad ke-13. Tarian ini terus diturunkan dari generasi ke generasi berikutnya sehingga masih sangat terkenal hingga sekarang. Tari Tor-Tor dulunya digunakan dalam acara ritual yang berhubungan dengan roh. Roh tersebut dipanggil agar masuk ke dalam patung-patung batu yang merupakan simbol leluhur. Anehnya patung-patung batu tersebut kemudian bisa bergerak, gerakannya hanya sebatas gerakan kaki (jinjit-jinjit) dan gerakan tangan. Selain itu dahulu tarian ini biasa ditampilkan saat ada ritual panen, kematian serta ritual penyembuhan. Namun, saat ini, Tari Tor-Tor juga bisa ditampilkan di saat acara pernikahan. Fungsinya pun mengalami pergesaran dari ritual menjadi kesenian / hiburan.

Gerakan Tari Tor-Tor seirama dengan musik yang mengiringinya yang dimainkan menggunakan alat-alat musik tradisional seperti gondang, seruling, terompet batak dan lain-lain. Gerakan tarian ini juga terbilang sederhana dan mudah dipelajari dibandingkan dengan tarian yang lain. Bentuk tariannya adalah cukup gerakan sedikit tangan dan kaki jinjit-jinjit mengikuti irama musik. Yang melambangkan sarana penyampaian batin untuk menunjukkan rasa hormat kepada roh leluhur serta kepada para tamu yang dihormati.

Ada beberapa jenis Tari Tor-Tor yakni Tor-Tor Pangurason (Tari Pembersihan), tarian ini biasanya digelar pada saat pesta besar. Prosesnya sebelum pesta diselenggarakan, tempat pesta terlebih dahulu dibersihkan menggunakan jeruk purut agar jauh dari segala bahaya. Selanjutnya ada Tor-Tor Sipitu Cawan (Tari Tujuh Cawan). Tarian ini digelar saat pengukuhan seorang raja. Tarian ini konon berasal dari cerita legenda tujuh putri kayangan yang mandi di telaga di puncak Gunung Pusuk Buhit bersamaan dengan datangnya Piso Sipitu Sasarung (Pisau Tujuh Sarung). Ada pula Tari Tor-Tor Tunggal Panaluan, tor-tor ini berfungsi sebagai pemberi dan petunjuk untuk mengatasi masalah, misalnya ketika desa sedang dilanda musibah.

Sumber : utiket.com