Kamis, 01 Januari 2015

Rumah Adat Tongkonan



Tongkonan merupakan rumah adat masyarakat Tana Toraja yang ada di Provinsi Sulawesi Selatan. Rumah adat ini memiliki bentuk yang unik. Ada yang mengatakan bentuknya seperti perahu, namun beberapa ada pula yang mengatakan bentuk bangunannya seperti tanduk kerbau. Dalam setiap detail bangunannya, rumah adat ini mempunyai makna yang tersirat. Unsur kepercayaan, tradisi kuno, peradaban serta kebanggaan ada dalam bangunan ini. Jadi rumah adat ini tidak bisa dibangun secara sembarangan.

Tongkonan berasal dari kata Tongkon yang berarti menduduki atau tempat duduk. Disebut sebagai tempat duduk, karena awalnya rumah adat ini dijadikan sebagai tempat berkumpulnya para bangsawan Tana Toraja untuk berdiskusi. Dahulu rumah adat ini berfungsi sebagai pusat pemerintahan, kekuasaan adat serta sebagai pusat perkembangan sosial budaya dari masyarakat Tana Toraja. Rumah adat ini merupakan warisan turun-temurun dari nenek moyang Tana Toraja.

Bagi masyarakat Tana Toraja, secara simbolik rumah adat Tongkonan dianggap sebagai ibu. Sedangkan Alang Sura (Lumbung Padi), secara simbolik dianggap sebagai bapaknya. Secara umum, semua rumah adat Tongkonan yang berdiri berjejer akan selalu menghadap ke utara. Hal ini melambangkan leluhur mereka yang berasal dari utara. Selain masyarakat Tana Toraja juga percaya bahwa di waktunya nanti mereka juga akan berkumpul kembali di utara.

Pada dasarnya rumah adat Tongkonan memiliki tiga bagian di dalamnya yakni ruangan bagian utara, tengah serta selatan. Ruangan bagian utara (Tengalok) berfungsi sebagai ruang tamu/ruang tidur untuk anak-anak, serta tempat untuk menaruh sesaji. Ruangan bagian selatan (Sumbung) berfungsi sebagai ruang untuk kepala keluarga. Sedangkan ruangan bagian tengah (Sali) berfungsi sebagai ruang makan, pertemuan keluarga, dapur serta sebagai tempat untuk meletakkan orang yang sudah meninggal.

Pada dasarnya terdapat tiga jenis tongkonan yang memiliki fungsi secara khusus yakni Tongkonan Layuk (Tongkonan Pesio Aluk), Tongkonan Pekaindoran serta Tongkonan Batu Ariri.

Ciri khas lain dari rumah adat Tongkonan adalah adanya kepala kerbau serta tanduk-tanduk kerbau di tiang utama setiap rumah. Semakin banyak jumlah tanduk kerbau yang terpasang maka semakin tinggi pula derajat keluarga tersebut. Begitu pula empat warna dasar yang ada di rumah adat ini yakni hitam, merah, kuning dan putih. Setiap warna mempunyai makna sendiri. Warna hitam melambangkan kematian dan kegelapan. Warna merah adalah simbol dari warna darah yang melambangkan kehidupan manusia. Kuning melambangkan anugerah dan kekuasaan dari Sang Ilahi. Sedangkan putih merupakan simbol dari warna daging serta tulang yang artinya suci.

Sumber : utiket.com