Showing posts with label cagar budaya. Show all posts
Showing posts with label cagar budaya. Show all posts

Sunday, June 22, 2014

Desa Kete Kesu Makassar Indonesia



Tentang Desa Kete Kesu

Kete Kesu merupakan desa wisata dengan panorama yang indah dan berada di Kampung Bonoran, Kelurahan Tikunna Malenong, Kecamatan Sanggalangi, Toraja Utara, Provinsi Sulawesi Selatan. Desa wisata ini menyuguhkan sebuah gambaran lengkap kehidupan Tana Toraja yang sangat menjunjung tinggi nilai adat istiadat. Bagi wisatawan yang berkunjung ke desa wisata ini sangat dianjurkan untuk dapat mematuhi dan menghormati peraturan yang dibuat oleh masyarakat sekitar.

Desa Kete Kesu ditetapkan sebagai salah satu cagar budaya yang terkenal sebagai salah satu daerah penghasil kerajinan pahat, ukir dan lukis yang sudah diakui dunia. Di lokasi ini terdapat Tongkonan yang berjejer rapi di sepanjang jalan. Tongkonan adalah rumah adat dengan ciri rumah panggung dari kayu dimana kolong di bawah rumah biasanya dipakai sebagai kandang kerbau.

Ciri khas dari Tongkonan adalah berupa pintu yang dibuka ke atas, atapnya dilapisi ijuk hitam, bentuknya seperti perahu yang telungkup dengan buritan, bahkan ada yang mengibaratkan seperti tanduk kerbau dan harus dibangun menghadap ke utara karena masyarakat di sini percaya bahwa leluhur mereka berasal dari bagian utara dan ketika ada seseorang meninggal maka arwahnya akan berkumpul bersama arwah leluhur yang berada di sebelah utara.

Selain rumah Tongkonan, di desa wisata ini juga terdapat makam-makam tua yang menyimpan cerita mistis tersendiri. Bagi wisatawan yang beruntung, di lokasi ini juga sering dilakukan beberapa upacara adat. Kebanyakan upacara adat tersebut dilakukan pada bulan Juni hingga Desember. Diantara upacara adat tersebut adalah upacara Rambu Solo (upacara pemakaman secara besar-besaran dan meriah, dilakukan selama tiga sampai tujuh hari), Rambu Tuka (upacara adat untuk memasuki rumah baru) dan upacara-upacara adat lainnya.

Jika ingin berkunjung ke obyek wisata ini sebaiknya membawa perbekalan makanan dan minuman karena di tempat ini sangat minim tempat makan. Penginapan pun tidak terdapat di lokasi ini. Wisatawan dapat menemukan penginapan di Kota Rantepao yang berjarak sekitar lima kilometer. Walaupun minim fasilitas, namun di lokasi ini terdapat banyak kios yang menjajakan aneka souvenir kerajinan khas Toraja.

Akses ke Desa Kete Kesu

Desa Kete Kesu hanya berjarak sekitar lima kilometer dari Kota Rantepao yang merupakan kota basis pariwisata di Tana Toraja. Letaknya yang dekat dari pusat kota menjadikan Desa Kete Kesu dapat dicapai dengan mudah baik menggunakan kendaraan darat maupun berjalan kaki.

Biaya tiket masuk

Jika berkunjung ke desa wisata ini dikenakan biaya tiket masuk sebesar Rp 5.000 bagi wisatawan domestik dan Rp 10.000 bagi wisatawan mancanegara.

Sumber : utiket.com

Wednesday, March 12, 2014

Museum Asi Mbojo Bima Indonesia


Tentang Museum Asi Mbojo

Museum Asi Mbojo merupakan salah satu obyek wisata sejarah dan budaya yang dapat kita kunjungi di kota Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Museum ini dibangun di atas lahan seluas 30.728 meter persegi. Dalam bahasa Bima, “Asi” memiliki arti “istana”. Bangunan museum ini dahulunya memang merupakan istana Kesultanan Bima yang megah. Namun pada tahun 1952, Kesultanan Bima mengalami akhir masa kejayaannya. Artsitektur bangunan asli istana ini merupakan perpaduan antara arsitektur Mbojo dengan Belanda. Namun pada tahun 1980, istana ini hampir runtuh sehingga diperbaiki dan dipugar. Hingga akhirnya ditetapkan sebagai benda cagar budaya, yaitu sebagai Museum Daerah Kabupaten Bima pada tanggal 10 Agustus 1989. Namun pada bulan Maret 2008, dirubah menjadi Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Museum Asi Mbojo.

Kawasan di sekitar museum ini memiliki pemandangan yang indah, hijau dan sejuk karena banyak ditumbuhi oleh pepohonan terutama pohon palem. Selain itu, terdapat masjid tua di sebelah bangunan utama yang bernama Masjid Muhammad Salahuddin Bima yang dibangun pada tahun 1872. Terdapat pula meriam tua peninggalan Belanda.

Museum ini menyimpan sebagian koleksi Kesultanan Bima saja karena sebagian koleksi lainnya disimpan oleh keluarga Sultan. Koleksi kesultanan tersebut antara lain berupa mahkota, senjata, perhiasan, alat-alat upacara dan peralatan makan yang terbuat dari emas dan perak. Benda koleksi lainnya berupa flora dan fauna, benda-benda geologi dan berbagai peralatan untuk upacara kehamilan, kelahiran, pernikahan dan kematian. Di antara keseluruhan benda sejarah tersebut, mahkota sultan yang terbuat dari emas dan sebuah parang tua yang diukir pada masa Kerajaan Majapahit yang disebut dengan nama Gunti Rante merupakan benda koleksi yang paling populer dan banyak diminati untuk disaksikan oleh para pengunjung museum ini.

Museum Asi Mbojo terdiri dari beberapa ruangan, seperti ruang pameran tetap, ruang pameran temporer, ruang auditorium, ruang penyimpanan koleksi dan ruang administrasi. Di lantai dua dari museum ini terdapat sejumlah kamar yang dahulunya pernah digunakan oleh keluarga sultan untuk beristirahat. Fasilitas berupa toilet pun tersedia di museum ini.

Jam buka

Museum ini buka dari hari Selasa hingga Sabtu mulai pukul 07.30 WITA hingga pukul 14.30 WITA. Untuk hari Senin dan Minggu, museum tutup.

Tiket Masuk

Dewasa: Rp. 3.000, Anak-anak: Rp. 1.000, Pelajar / Mahasiswa: Rp. 2.000, Turis Asing: Rp. 5.000. Meski begitu harga bisa berubah sewaktu-waktu.

Akses ke Museum Asi Mbojo

Museum Asi Mbojo berjarak sekitar 25 km dari Bandara Sultan Muhammad Salahuddin yang ada di Bima. Untuk menuju ke lokasi ini dapat dicapai dengan menggunakan taksi dari bandara dengan lama perjalanan sekitar satu jam.

Maskapai terbang ke Bima



Sumber : utiket.com