Jumat, 18 Oktober 2013

Rambu Solo, Pemakaman Khas Tana Toraja


Tana Toraja merupakan salah satu daerah di Indonesia yang masih kental dengan nuansa adat istiadatnya. Tana Toraja terletak sekitar 300 kilometer dari kota Makasar, Sulawesi Selatan. Tana Toraja juga merupakan salah satu daerah wisata andalan yang dimiliki oleh Provinsi Sulawesi Selatan. Setiap penduduk keturunan Suku Toraja sangat menjunjung tinggi  budaya serta adat istiadat peninggalan nenek moyang mereka hingga saat ini. Berbagai upacara adat yang diselenggarakan setiap tahunnya di daerah ini mempunyai daya tarik tersendiri bagi setiap wisatawan yang berkunjung, termasuk wisatawan mancanegara.

Salah satu upacara adat yang terkenal di Tana Toraja adalah Rambu Solo, yakni sebuah upacara adat berupa prosesi pemakaman khas Tana Toraja. Masyarakat Tana Toraja mempunyai kepercayaan bahwa seseorang yang telah meninggal maka kematiannya dianggap belum sempurna bila belum menyelenggarakan upacara adat Rambu Solo. Maka sebelum proses upacara diselenggarakan, orang yang meninggal tersebut akan diperlakukan layaknya orang yang sedang sakit atau dalam kondisi lemah. Mereka akan tetap dihormati dan diperlakukan layaknya mereka masih hidup, seperti membaringkannya di ranjang ketika akan tidur, meyediakan makanan dan minuman hingga mengajaknya bercerita tentang kehidupan sehari-hari. Biaya yang diperlukan untuk menyelenggarakan upacara adat ini tidaklah sedikit, maka tidak heran bila upacara pemakaman bisa diselenggarakan  berbulan-bulan hingga bertahun-tahun lamanya setelah orang tersebut meninggal.

Pada dasarnya upacara adat Rambu Solo terbagi menjadi dua prosesi, yakni Prosesi Pemakaman atau dikenal juga dengan nama Rante serta Pertunjukkan Seni. Kedua prosesi tersebut tidak diselenggarakan secara terpisah namun saling melengkapi secara keseluruhan. Untuk Prosesi Pemakaman atau Rante biasanya diselenggarakan di lapangan khusus yang terletak di tengah-tengah kompleks rumah adat Tongkonan dengan susunan acara yang pertama adalah proses pembungkusan jenazah yang disebut dengan Ma’Tudan Mebalun, yang kedua proses menghias peti jenazah dengan menggunakan benang emas dan perak atau disebut Ma’Roto, yang ketiga adalah proses perarakan jenazah ke sebuah tempat persemayaman atau disebut Ma’Popengkalo Alang, dan yang terakhir adalah Ma’Palao/Ma’Pasonglo yakni proses perarakan jenazah dari kompleks rumah adat Tongkonan menuju kompleks pemakaman (Lakkian).

Sedangkan untuk Prosesi Pertunjukkan Kesenian memiliki susunan acara yang pertama adalah perarakan kerbau untuk kurban, dilanjutkan dengan pertunjukkan beberapa musik daerah seperti Pa’Pompan, Pa’Dali Dali dan Unnosong serta tarian adat setempat seperti Pa’Badong, Pa’Dondi, Pa’Randing, Pa’Katia, Pa’Papanggan, Passailo dan Pa’Silaga Tedong. Baru kemudian menuju pertunjukkan adu kerbau yang dikenal dengan nama Mapasilaga Tedong. Yang terakhir adalah ritual penyembelihan kerbau sebagai hewan kurban.

Pertunjukkan seni yang diselenggarakan tidak hanya berfungsi untuk memeriahkan proses pemakaman, namun juga sebagai bentuk penghormatan dan doa bagi orang yang sudah meninggal. Biasanya jumlah kerbau yang disembelih menjadi ukuran tingkat kekayaan dan derajat orang yang meninggal ketika mereka masih hidup. Upacara adat Rambu Solo bagi masyarakat Tana Toraja dianggap sebagai satu upacara yang penting dan hukumnya wajib. Upacara adat ini mencerminkan kehidupan masyarakat Tana Toraja yang suka bergotong royong, memiliki sikap kekeluargaan serta sebagai bentuk penghormatan dan pengabdian mereka kepada orang yang telah meninggal.

Sumber : utiket.com