Jumat, 17 Januari 2014

Upacara Adat Kasada Bromo


Selain terkenal dengan obyek wisatanya yang mengagumkan, Bromo juga memiliki daya tarik budaya. Yaitu upacara Yadnya Kasada atau Kasodo. Upacara ini merupakan upacara adat yang sampai saat ini masih dilestarikan oleh Suku Tengger yang bermukim di sekitar Gunung Bromo. Bagi Suku Tengger upacara Kasada merupakan bentuk rasa syukur terhadap Tuhan. Selain sebagai bentuk penghormatan terhadap Sang Hyang Widhi, upacara ini juga berfungsi sebagai simbol untuk memperingati Raden Kusuma, putra dari Jaka Seger dan Lara Anteng yang telah berkorban demi masyarakat Tengger di masa lalu. Masyarakat setempat memang meyakini bahwa suku Tengger merupakan keturunan Roro Anteng seorang putri dari Raja Majapahit dan Jaka Seger, putra seorang Brahmana. 

Upacara Kasada dilakukan setiap tahun sekali pada bulan Kasada menurut penanggalan Hindu Tengger. Upacara ini dilakukan pada hari ke 14 di bulan Kasada. Upacara dilakukan pada tengah malam hingga dini hari. Ada beberapa tahapan yang harus dilaksanakan pada upacara Kasada secara khidmat yaitu Puja Purwaka, Manggala Upacara, Ngulat Umat, Tri Sandiya, Muspa, Pembagian Bija,  Diksa Widhi serta penyerahan sesaji di kawah Bromo. Sesaji sendiri berupa hasil pertanian yang dibawa oleh Suku Tengger. Uniknya di dalam kawah penduduk Tengger pedalaman telah menunggu untuk mendapatkan sesaji yang berupa buah-buahan, sayuran, hewan ternak juga uang. Upacara digelar di Pura Luhur Poten, tepat di laut pasir Bromo, kaki Gunung Bromo. Dalam upacara Kasada, juga dipilih dan diangkat tabib dan dukun baru bagi suku Tengger. 

Menyaksikan upacara Kasada tentu akan menambah pengalaman dan pengetahuan tentang khasanah budaya Indonesia. Jika Anda ingin menyaksikan upacara ini datanglah sebelum tengah malam agar mendapatkan tempat terbaik untuk menyaksikan rangakaian upacara Kasada. Upacara Kasada selalu menjadi daya tarik tersediri bagi wisatawan, sehingga jalan akan macet, penuh dan sesak. Perlu diperhatikan juga untuk tetap beriringan bersama rombongan penduduk saat menuju arah bawah gunung agar tidak tersesat akibat kabut yang tebal dan arah pandang yang terbatas.

Sumber : utiket.com