Showing posts with label seni dan budaya. Show all posts
Showing posts with label seni dan budaya. Show all posts

Thursday, December 11, 2014

Tari Merak



Tari Merak merupakan tarian khas yang berasal dari tanah Pasundan. Tarian ini  merupakan tarian kreasi baru yang menceritakan tentang kehidupan burung merak. Tari Merak diciptakan oleh seorang seniman Sunda yakni, Raden Tjetje Somantri pada tahun 1950 yang kemudian dibuat ulang oleh Irawati Durban pada tahun 1965.

Kebanyakan orang salah mengira bahwa tarian ini menceritakan tentang kehidupan burung merak betina. Padahal dalam tarian ini justru menceritakan tentang kehidupan dan pesona burung merak jantan yang terkenal pesolek. Dalam tarian ini, digambarkam bahwa merak jantanlah yang akan memamerkan keindahan bulu ekornya yang mekar berwarna-warni untuk menarik hati sang betina. Hanya saja, memang keanggunan gerak tari dari merak jantan hanya bisa digambarkan dari para penari wanita.

Tari Merak biasanya dimainkan oleh tiga orang penari atau lebih secara bersama-sama. Masing-masing penari memiliki fungsi sebagai laki-laki dan wanita. Para penari akan memakai pakaian yang memiliki motif seperti bulu merak. Pada pakaiannya juga akan dilengkapi dengan sepasang sayap yang menggambarkan bentuk dari bulu merak jantan yang sedang dikembangkan. Tak hanya itu, hiasan kepala / mahkota yang dipakai di kepala para penari semakin memperjelas gambaran tentang burung merak. Lagu Macan Ucul biasanya menjadi iringan lagu untuk tarian ini.

Tari Merak mempunyai banyak fungsi diantaranya dipentaskan untuk menyambut tamu agung dalam sebuah acara atau ritual, sebagai tari persembahan untuk para tamu yang hadir dalam resepsi pernikahan, maupun sebagai sarana untuk memperkenalkan budaya Indonesia di tingkat internasional.

Sumber : utiket.com

Monday, December 1, 2014

Tari Saman



Pernah melihat tarian Aceh yang dilakukan secara berkelompok dengan gerakan yang sangat cepat dan teratur? Itu adalah Tari Saman. Tari Saman merupakan tarian tradisional yang berasal dari Suku Gayo, salah satu suku yang ada di Aceh. Nama Saman sendiri konon diambil dari pencipta dan pengembang Tari Saman yaitu Syeikh Saman. Syeikh Saman merupakan seorang ulama yang menyebarkan agama Islam di Aceh.

Tari Saman biasanya ditampilkan saat ada acara-acara penting dalam adat. Tari Saman ini biasanya ditampilkan dengan menggunakan syair yang khas. Syair yang digunakan untuk mengiringi tarian biasanya menggunakan Bahasa Arab dan Bahasa Gayo yang isinya tentang pesan-pesan dakwah, pantun, nasehat maupun sindiran. 

Tari Saman juga dikenal sebagai Tarian Seribu Tangan. Disebut demikian karena gerakan di tarian ini sebagian besar merupakan gerakan tangan yang khas yaitu tepuk tangan dan tepuk dada. Gerakan ini dilakukan berulang-ulang dengan ritme yang sangat cepat dan teratur. 

Tarian ini dilakukan secara berkelompok. Penarinya biasanya terdiri dari para pria ataupun para wanita yang menggunakan pakaian adat setempat. Dalam satu kelompok, biasanya akan ditunjuk seorang pemimpin (biasa disebut dengan syekh) yang bertugas sebagai pengatur gerakan para penari serta menyanyikan lagu-lagu saman. Kekompakan dan kosentrasi tinggi sangat dibutuhkan saat memainkan tarian ini. Tari Saman ini tidak menggunakan alat musik, iramanya berasal dari suara dan gerakan dari para penarinya. Namun beberapa ada pula yang menggunakan gendang.

Pada tanggal 24 November 2011, Tari Saman sendiri sudah ditetapkan UNESCO sebagai Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity. Tari Saman kini bukan hanya sekedar media dakwah saja, tetapi telah menjadi salah satu identitas kebudayaan Aceh. Tarian ini banyak ditampilkan dan diikutsertakan dalam berbagai ajang perlombaan.

Sumber : utiket.com

Wednesday, October 8, 2014

Alat Musik Tradisional Sasando



Sasando merupakan alat musik tradisional khas Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Alat musik ini dikenal juga dengan nama Sasandu oleh masyarakat setempat, yang berarti alat musik yang bergetar / berbunyi. Cara memainkan alat musik ini yaitu dengan dipetik. Hampir sama dengan gitar atau harpa memang, hanya saja Sasando mempunyai bunyi yang merdu, khas dan unik.

Sasando konon sudah digunakan oleh masyarakat Rote sejak abad ketujuh. Bahan untuk membuat alat musik tradisional ini terbuat dari anyaman daun lontar dan bambu yang berbentuk tabung panjang. Untuk dawainya terbuat dari bahan halus seperti senar string. Sasando harus dirawat secara rutin. Karena mudah berjamur, setiap lima tahun sekali, anyaman daun lontar harus diganti.

Memainkan alat musik ini memang tidaklah mudah. Selain harus mempunyai teknik dan keterampilan jari jemari untuk memetik dawai, Sasando juga dimainkan menggunakan dua tangan dengan arah yang berlawanan. Tangan kanan berfungsi untuk memainkan akord, sedangkan tangan kiri berfungsi sebagai pengatur melodi dan bass.

Di kawasan Nusa Tenggara Timur, alat musik tradisional ini sering dimainkan untuk beberapa keperluan seperti untuk menyambut tamu penting, menghibur orang yang sedang berduka cita hingga sebagai pengiring untuk tarian serta upacara adat. Sasando pada dasarnya terbagi menjadi dua jenis yakni Sasando Gong dan Sasando Biola. Sasando Gong awalnya hanya mempunyai tujuh dawai / tujuh nada namun kini telah berkembang menjadi sebelas dawai. Sedangkan Sasando Biola mempunyai diameter bambu yang lebih besar. Awalnya hanya mempunyai 30 dawai / nada, namun kini telah berkembang menjadi 32 dan 36 dawai.

Meski begitu, Sasando semakin berkembang yang ditandai dengan banyaknya variasi serta jumlah dawai yang semakin beragam. Salah satu pengembangan dari Sasando tradisional adalah Sasando Elektrik (umumnya memiliki 30 dawai). Sasando jenis ini telah diberi sentuhan teknologi. Sehingga bunyi dari Sasando Elektrik ini dapat diperbesar melalui alat pengeras suara. Memang sudah seharusnya kita harus melestarikan dan menjaga alat musik tradisional ini.

Sumber : utiket.com

Tuesday, October 7, 2014

Tari Bedhaya Ketawang



Tari Bedhaya Ketawang adalah salah satu tarian klasik yang disakralkan dan berasal dari Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Tarian ini biasanya hanya dipertunjukkan setahun sekali yakni pada saat hari ulang tahun tahta kerajaan. Konon, saat dipentaskan, Kanjeng Ratu Kidul pun ikut menari sebagai tanda penghormatan kepada raja penerus dinasti Mataram.

Tari Bedhaya Ketawang berasal dari kata Bedhaya dan Ketawang. Bedhaya berarti penari wanita di istana dan Ketawang berarti bintang di langit (mencerminkan sesuatu yang luhur). Sebelum tarian ini tercipta, konon Penembahan Senopati (Sultan Agung) telah memerintahkan para pakar gamelan untuk menciptakan sebuah Gendhing yang bernama Ketawang. Tarian ini diperagakan oleh sembilan orang penari perempuan dengan tata rias layaknya seorang pengantin Jawa. Tarian ini menggambarkan hubungan khusus antara Panembahan Senopati (Sultan Agung) dengan Kanjeng Ratu Kencanasari (Kanjeng Ratu Kidul).

Kesembilan penari tersebut masing-masing memiliki nama sesuai perannya. Penari pertama disebut dengan Batak. Penari kedua disebut dengan Endhel Ajeg, penari ketiga disebut dengan Endhel Weton. Untuk penari keempat disebut dengan Apit Ngarep, penari kelima disebut dengan Apit Mburi dan penari keenam disebut dengan Apit Meneg. Sedangkan untuk penari ketujuh, kedelapan serta kesembilan disebut dengan Gulu, Dhada serta Dan Boncit.

Musik yang mengiringi tarian ini terdiri dari beberapa instrumen yakni Kemanak, Kethuk, Kenong, Kendhang dan Gong. Suara merdu dari Sinden juga turut mengiringi tarian ini. Tarian ini biasanya berlangsung selama satu jam. Dalam pertunjukkan ini baik raja maupun rakyat sama-sama berkumpul menjadi satu. Hal ini melambangkan kepercayaan Manunggaling Kawula Gusti yang berarti penyatuan antara raja dan rakyatnya. Secara spiritual Manunggaling Kawula Gusti bisa juga berarti penyatuan antara Tuhan dan ciptaanNya.

Sebelum pertunjukkan tari dimulai, para penari biasanya harus mengikuti beberapa aturan dan upacara adat. Malam sebelum pertunjukkan, para penari harus tidur di Panti Satria yakni sebuah tempat yang dianggap suci di istana keraton. Selain itu para penari yang akan menarikan tarian ini juga harus melakukan ritual puasa tertentu. Intinya para penari harus dalam keadaan suci baik lahir maupun batin. Sungguh suatu budaya klasik yang tetap harus dilestarikan.

Sumber : utiket.com

Wednesday, June 18, 2014

Festival Budaya Erau 2014


Festival Budaya Erau merupakan festival tahunan yang berasal dari kota Tenggarong, Kabupaten Kutai Kertanegara, Provinsi Kalimantan Timur. Festival ini merupakan festival budaya tertua yang ada di Indonesia. Tahun 2014 ini Festival Budaya Erau akan diselenggarakan mulai tanggal 15 hingga 22 Juni 2014 bertempat di Kota Raja, Tenggarong, Kabupaten Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur.

Festival ini sudah berlangsung sejak abad ke-13 dan merupakan warisan budaya dari Kesultanan Kutai Kertanegara. Kata ‘Erau’ berasal dari bahasa Kutai “Eroh” yang bermakna ramai, bergembira, berpesta ria atau suasana yang penuh dengan sukacita.

Awalnya tradisi Erau berfungsi sebagai upacara penobatan raja. Namun dalam perkembangannya, tradisi ini digunakan pula untuk pemberian gelar dari Raja kepada tokoh masyarakat yang dianggap berjasa terhadap kerajaan. Seiring dengan jatuhnya Kesultanan Kutai Kertanagara, tradisi Erau beralih fungsi menjadi semacam pesta rakyat / festival budaya yang tetap dilestarikan hingga kini. Festival ini sekarang telah masuk dalam kalender event pariwisata nasional. Acaranya pun tidak hanya mengulas tentang seni dan budaya dari Keraton Kutai Kertanagara saja, melainkan lebih bervariasi. Beragam seni dan budaya yang ada dan hidup di seluruh wilayah Kabupaten Kutai Kertanagara turut ditampilkan di festival ini.

Untuk Festival Budaya Erau yang akan diselenggarakan pada tanggal 15 hingga 22 Juni 2014 nanti akan diramaikan pula dengan tim kesenian yang berasal dari sebelas negara yang berbeda. Sebelas negara tersebut merupakan anggota dari International Council of Organizations of Folklore Festivals and Folk Art (CIOFF). Adapun kesebelas negara tersebut adalah Belanda, Hungaria, Rusia, Filipina, Italia, Latvia, Mesir, Bangladesh, Korea Selatan, Kolumbia dan Kroasia. Partisipasi dari negara-negara anggota CIOFF ini merupakan wujud kerja sama dari pertukaran seni pertunjukkan antarnegara. Tak diragukan lagi, festival ini pastinya akan mengundang banyak wisatawan baik lokal maupun wisatawan mancanegara untuk datang dan menonton pertunjukkannya.

Akses

Untuk menuju ke Kutai Kertanegara, Anda dapat melakukan keberangkatan dari kota Samarinda. Dari pusat kota Samarinda, perjalanan dapat dilanjutkan dengan menggunakan kendaraan pribadi atau umum seperti taksi menuju ke kota Tenggarong. Waktu tempuhnya sekitar 30 menit perjalanan.

Sumber : utiket.com