Showing posts with label warisan budaya dunia. Show all posts
Showing posts with label warisan budaya dunia. Show all posts

Thursday, September 25, 2014

Kampung Adat Wae Rebo Ruteng Indonesia



Tentang Kampung Adat Wae Rebo

Satu lagi perkampungan unik yang ada di Indonesia, yaitu Kampung Adat Wae Rebo. Perkampungan ini ada di Desa Satar Lenda, Kecamatan Satarmese Barat, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Kampung ini berada di ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut dan jauh dari keramaian. Tak heran perkampungan ini mendapat julukan "Negeri di atas Awan".

Penduduk di kampung ini sangat ramah. Tak heran banyak wisatawan yang ingin kembali lagi ke sini. Sebagian besar penduduknya menjadi petani kopi. Kopi yang dihasilkan cukup terkenal dan mempunyai kualitas yang bagus. Sangat beruntung jika Anda berkunjung saat musim panen datang. Pada saat itu Anda bisa melihat kegiatan warga saat panen kopi. Mulai dari memetik, menjemur hingga menggiling biji kopi.

Di kampung ini terdapat rumah adat khas yang disebut dengan Mbaru Niang. Desain arsitekturnya sangat khas. Berbentuk kerucut dan mempunyai lima tingkatan. Mbaru Niang sendiri merupakan rumah adat utama yang berjumlah tujuh. Jumlah rumah adat utama ini tidak boleh dikurangi maupun ditambahi. Warga boleh membangun rumah di sekitar kampung namun tidak boleh sama dengan Mbaru Niang. Menariknya semua rumah adat utama tersebut mempunyai diameter dan ketinggian yang sama.

Pembangunan rumah adat Mbaru Niang dilakukan secara tradisional. Atapnya terbuat dari ijuk dan ada semacam perapian di tengah ruangan. Satu rumah biasanya dihuni oleh enam hingga delapan keluarga yang berasal dari nenek monyang yang sama. Karena keunikan inilah pada Tahun 2012 lalu UNESCO memberikan penghargaan kepada Wae Rebo sebagai salah satu warisan budaya dunia.

Saat berkunjung ke Wae Rebo Anda akan dikenakan biaya administratif, dimana pengelolaan uangnya akan digunakan untuk biaya bahan makanan, memasak serta pemeliharaan infrastruktur kampung. Untuk menginap di perkampungan ini dikenakan biaya sekitar Rp 225.000 per orang (sudah termasuk tiga kali makan). Bila tidak menginap akan dikenakan biaya sekitar Rp 100.000 per orang. Bila Anda menginap, Para Tetua Adat akan memberi fasilitas tambahan seperti pemandu lokal serta beberapa operator tour untuk mengatur jadwal trekking Anda. Namun, sebelumnya para pengunjung yang datang ke kampung ini harus melalui upacara adat Waelu terlebih dahulu. Upacara adat Waelu merupakan upacara adat untuk memohon izin kepada para leluhur agar tamu yang berkunjung diberikan keselamatan dan perlindungan selama di Wae Rebo hingga kembali ke tempat tinggalnya.

Akses ke Kampung Adat Wae Rebo

Kota terdekat untuk menuju ke lokasi adalah melalui Ruteng. Wae Rebo berada di sebelah barat daya kota Ruteng. Dari Ruteng dapat menggunakan kendaraan pribadi atau sewa hingga sampai ke Desa Dintor. Dari sini, dilanjutkan dengan berjalan kaki hingga sampai ke Denge. Dari Denge, perjalanan dilanjutkan dengan melalui hutan kecil dan Sungai Wae Lomba menuju ke Ponto Nao. Nah, dari sini sudah terlihat pusat perkampungan Wae Rebo.

Sumber : utiket.com

Thursday, May 1, 2014

Angklung yang Mendunia


Anda bisa memainkan angklung? Angklung merupakan alat musik tradisional yang terbuat dari bambu. Terdiri dari 2 sampai 4 potong bambu yang dirangkai dengan menggunakan rotan. Angklung dimainkan dengan cara digoyangkan, alunan nada nan merdu akan keluar dari alat musik ini. Setiap angklung akan menghasilkan nada yang berbeda, sehingga akan lebih indah jika dimainkan secara bersama. Setiap pemain harus bekerja sama agar tercipta harmoni lagu yang menarik.

Angklung merupakan kesenian khas Indonesia yang harus kita jaga dan lestarikan. Bahkan seniman Indonesia sekarang ini lebih giat dalam mempromosikan angklung baik di dalam maupun di luar negeri. Angklung sendiri telah masuk ke dalam daftar warisan budaya dunia yang diakui oleh UNESCO pada tahun 2010 lalu. Kata angklung berasal dari bahasa Sunda yaitu “angkleung-angkleungan” yakni gabungan dari gerakan pemain angklung, serta suara ‘klung’ yang dihasilkan alat musik ini.

Angklung memang identik dengan kesenian khas Sunda, namun belum ada sumber pasti yang menyebutkan awal mula munculnya kesenian ini. Angklung tertua terdapat di Jasinga, Bogor, Jawa Barat yang diperkirakan berumur sekitar 400 tahun. Angklung tersebut bernama Angklung Gubrag. Meski begitu, tak hanya Jawa Barat saja yang memiliki angklung. Beberapa daerah di Indonesia juga mengenal alat musik ini seperti Jawa tengah, Bali, Madura serta Kalimantan. Fungsi angklung sendiri dahulunya digunakan oleh masyarakat Sunda sebagai penggugah semangat pada saat perang.

Pengakuan terhadap keberadaan angklung oleh dunia internasional pertama kali dilakukan oleh musikus besar asal Australia yaitu Igor Hmel Nitsky pada tahun 1955, dan semakin terkenal hingga sekarang. Bahkan rekor dunia bermain angklung pernah diciptakan di Beijing, China yang melibatkan 5.393 peserta di Stadion Buruh Beijing. Acara tersebut diselenggarakan oleh KBRI.

Sementara itu di tanah air, khususnya di Jawa Barat kita juga bisa menikmati wisata angklung. Salah satunya di Saung Angklung Udjo yang terletak di Jalan Padasuka No 118, Bandung. Di sini hampir setiap hari diadakan pertunjukan angklung. Wisata angklung bisa menjadi pilihan menarik untuk liburan Anda. Jadi Anda bisa turut serta menikmati dan belajar kesenian khas Indonesia ini.

Sumber : utiket.com